Geertz, Mudik dan Lebaran; Sebuah Catatan Tradisi Tahunan

Setiap tahun masyarakat Indonesia kerap mudik Lebaran; sebuah istilah yang merujuk kepada tradisi dan identitas sosial warga. Mudik bisa dikatakan perjalanan orang-orang yang mengadu peruntungan di kota untuk kembali ke kampung asalnya.

Tradisi tahunan ini adalah sebuah fenomena sosial yang mencerminkan lapisan budaya, nilai serta identitas kolektif yang terbentuk dalam masyarakat Indonesia.

Dalam perspektif antropologi, mudik Lebaran dipahami sebagai manifestasi dari konsep-konsep kunci. Fenomena ini menunjukkan signifikansi budaya dalam kehidupan sosial masyarakat, di mana perayaan Lebaran menjadi momen yang sangat dinanti-nanti dan dihormati.

Mudik juga mencerminkan pentingnya ritual dan tradisi dalam membentuk identitas kolektif. Perjalanan pulang ke kampung halaman tak hanya sekadar praktik fisik, tetapi juga sebuah ritual yang memperkuat ikatan emosional dan sosial antara pemudik dengan keluarganya.

Perjalanan mudik Lebaran juga menggambarkan kompleksitas struktur sosial dalam masyarakat Indonesia. Orang-orang dari pelbagai lapisan sosial dan ekonomi bersatu dalam pengalaman yang sama, menciptakan kesamaan dan solidaritas di antara mereka.

Untuk sampai ke kampung halaman, pemudik menggunakan pelbagai macam alat transportasi, dari sepeda motor hingga pesawat terbang. Rasa letih, lelah hilang seketika saat bertemu sanak keluarga.  Perjalanan puluhan jam tak terasa begitu tiba di tanah kelahiran.

Sebagai tradisi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, mudik Lebaran juga menunjukkan adaptasi dan transformasi dalam konteks budaya yang terus berubah. Dengan berkembangnya teknologi transportasi dan komunikasi, cara orang melakukan mudik telah berubah dari waktu ke waktu.

Yang dahulu pemantauan kondisi jalur mudik hanya via televisi dan radio, kini dengan kecanggihan teknologi, pemudik dapat memantau sendiri via CCTV yang dapat diakses pada gawai pintarnya masing-masing. Meskipun demikian, nilai-nilai dan makna yang terkandung dalam tradisi ini tetap tidak berubah.

Dalam fenomena ini, penting untuk mengingat kembali pemikiran dan penelitian yang relevan dalam antropologi. Salah satu contohnya adalah penelitian antroplog terkemuka Clifford Geertz. Ia menjelaskan makna simbolik dalam praktik budaya pada karyanya seperti “The Interpretation of Cultures”.  Geertz menekankan pentingnya memahami praktik budaya dalam konteks lokal.

Dalam konteks fenomena mudik Lebaran, pemikiran Geertz tentang makna simbolik dalam praktik budaya dapat memberikan wawasan yang dalam. Ia menyoroti praktik budaya tak hanya tindakan fisik semata, tetapi juga membawa makna yang kaya dan kompleks bagi individu dan masyarakat.

Ketika orang-orang mudik Lebaran, mereka tidak hanya melakukan perjalanan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Lebih dari itu, mudik Lebaran adalah sebuah ritual yang sarat dengan makna sosial dan budaya. Geertz akan menekankan pentingnya memahami makna simbolik di balik tindakan-tindakan seperti bersilaturahmi, bermaaf-maafan, dan merayakan perayaan Idul Fitri di kampung halaman.

Selain itu, Geertz juga menekankan konteks lokal dalam memahami praktik budaya. Dalam konteks mudik Lebaran, ini berarti memahami bagaimana tradisi ini dijalankan secara spesifik di berbagai daerah di Indonesia. Misalnya, bagaimana tradisi mudik Lebaran di Jawa berbeda dengan tradisi di Sumatera dan Sulawesi atau daerah lainnya.

Dengan memahami perspektif Geertz tentang makna simbolik dan konteks lokal dalam praktik budaya, kita dapat melihat alasan orang-orang mudik tidak hanya terkait dengan kebutuhan fisik atau praktis semata. Lebih dari itu, mudik Lebaran mengandung makna sosial, budaya, dan spiritual yang dalam bagi masyarakat Indonesia.

Mudik Lebaran dinantikan kaum muslim yang ingin merayakan hari Raya Idul Fitri bersama keluarga. Berangkat dari rindu akan kebersamaan merayakan perayaan setahun sekali dan dibalut dengan kenangan tempo dulu.

Para pemudik rindu akan salat Idul Fitri  di desa tempat mereka tumbuh, bersalam-salaman, berziarah, dan menikmati ketupat dan opor. Semua dirayakan dengan penuh kegembiraan dan suka cita. Ya, satu tahun sekali tradisi mudik akan terus bergema di tanah air. Jadi, selamat mudik. (*)

*Cucu Sulastri

(Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang)

Artikel ini disunting dari : https://www.respublika.id/2024/03/22/geertz-mudik-dan-lebaran-sebuah-catatan-tradisi-tahunan/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top